LP2M Bekali Asesmen dan Analisis Sosial

08 April 2019

PEKALONGAN - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Pekalongan selenggarakan Pembekalan KKN 46 Tahun 2019 di Auditorium IAIN Pekalongan pada Senin (1/04) – Selasa (2/04). IAIN Pekalongan memiliki tanggung jawab sosial, untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah serta menyelesaikan problem sosial umat.

Melalui KKN, para mahasiswa bukan hanya mengamalkan ilmu, melainkan juga mendialogkan teori dengan realitas sosial keagamaan di tengah-tengah masyarakat. Demikian sambutan yang disampaikan ketua LP2M. "Sebelum belajar dan bekerja bersama masyarakat di lokasi KKN, kita akan belajar paradigma gerakan sosial, asesmen, analisis sosial dan teknik-teknik lainnya. Termasuk belajar jurnalistik dan videografi untuk perubahan sosial," lanjut Maghfur. Bersama Bapak Edhi Santoso, Kasi PMD kecamatan Lebakbarang kita mendiskusikan kebijakan pembangunan di kecamatan Lebakbarang sekaligus bagaimana peta masalah dan potensi yang ada di desa tersebut” ujar Dr. Maghfur M.Ag Selaku Ketua LP2M dalam sambutan Pembukaan.

Dia menekankan bahwa pak Edhi cocok menyampaikan materi sebagai bagian dari pembekalan terkait tema KKN kita “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid” jadi masjid sebagai pintu masuk bagaimana kita belajar dan bekerja ikut berpartisipasi di dalam proses pembangunan yang ada didesa. Bahwa jamaah-jamaah masjid juga ada problem-probel sosial keagamaan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dan seterusnya. “Ada 3 poin yang ingin saya sampaikan yang pertama secara geografis Lebakbarang, Peta Masalah, potensi wisata yang ada di Lebakbarang.” Ujar pak Edhi Santoso S.E selaku Kasi Pengabdian Kecamatan Lebakbarang.

Dalam pembekalan KKN ini diikuti oleh 182 mahasiswa . Dia menjelaskan bahwa Luas wilayah Kecamatan Lebakbarang 58,20 km2 atau 6,96 % dari luas Wilayah Kabupaten Pekalongan, secara administratif terbagi atas 11 desa diantaranya Desa Bantar Kulon, Depok, Kapundutan, Kutorembet, Lebakbarang, Mendolo, Pamutuh, Sidomulyo, Tembeleng Gunun, Timbang Sari dan Wonosido. Bencana alam yang terjadi diantaranya longsor, tanah goyang, tanah retak, pohon tumbang dan lain-lain. Untuk potensi wisata di Lebakbarang diantaranya Jembatan Gantung didesa Timbangsari, Curug Jlarang di Desa Sidomulyo terdapat Curug Kuwung Indah, terletak di Desa Karanggondang, Curug Cinde di Desa Depok dan lain-lain. Produk yang dilebakbarang pisang, kopi, gula aren. Untuk kegiatan keagamaan masih kurang karena kadang untuk orang yang beribadah di masjid sedikit hanya beberapa orang saja.

Materi selanjutnya di isi oleh bapak Farid Abdul Khakim S.STP, M.M selaku camat Petungkriyono diikuti ada 145 mahasiswa. Pertemuan kali ini membahas tentang secara geografis, peta masalah, dan potensi wisata di Petungkriyono. Petungkriono sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Luas wilayah Kecamatan Petungkriyono 73,59 km2 atau 8,80 % dari luas Wilayah Kabupaten Pekalongan. Secara administratif terbagi atas 9 desa yaitu Desa Curug Muncar, Gumelem, Kasimpar, Kayupuring, Simego, Songgodadi, Tlogohendro, Tlogopakis, dan Yosorejo.

“Masyarakat disana sangat humanis dan sebagian juga baik, bagus, toleransi. Di Petungkriyono mempunyai 9 desa, diantara 9 desa itu ada 7 desa melaksanakan pilkades setempat kecuali Songgodadi dan Gumelem. Dikecamatan Petungkriyono listrik masuk itu pada tahun 2007. Curug Muncar adalah desa yang paling sedikit jumlah penduduknya. Potensi hampir rata-rata untuk desa bagian atas adalah sering terjadi longsor,“ ujar bapak Untuk destinasi wisata ada curug muncar, curug lawe, curug bajing, kebun strawberry Petungkriyono, Gunung Kendalisodo, Gunung Regojembangan, dan River Tubing Sungai Welo. Di Kecamatan Petungkriyono rawan tanah longsor hampir setiap hujan. Biasanya desa-desa yang ada di ujung.

Tanggal 2 April 2019 dilanjutkan materi pembekalan KKN diisi oleh bapak Siswanto, S.STP selaku camat Kandangserang diikuti ada 186 mahasiswa . Sama halnya dengan materi sebelumnya , pak Siswanto menjelaskan tentang kecamatan Kandangserang, urutan desa yang paling jauh sampai yang terdekat di Kecamatan kandangserang . Luas wilayah Kecamatan Kandangserang 60.563,4 km² dari luas wilayah Kabupaten Pekalongan. Jumlah desa yang ada di Kandangserang ada 14 desa yaitu Bodas, Bojongkoneng, Bubak, Garungwiroyo, Gembong, Kandangserang, Karanggondang, Klesem, Lambur, Luragung, Sukoharjo, Tajur, Trajumas dan Wangkeleng. Potensi wisata di Kecamatan Kandangserang ada Watu Ireng, Wisata Sikujang , bukit jembatan, gardu Simego ada di desa Tajur. Kegiatan keagamaan di Kecamatan Kandangserang masih kurang hanya sebagian desa saja yang sudah melakukan tahlilan yasinan , muslimat ibu-ibu dan lain-lain.

Materi pembekalan KKN di Kecamatan Paninggaran diisi oleh Pak Drs. Moh. Edy Yuliantono, M.M selaku Sekcam Paninggrana diikuti ada 324 mahasiswa. Secara garis besar yang dijelaskan dalam pembekalan KKN ini adalah kondisi dari tiap-tiap desa di Kecamatan Paninggaran. Beliau menjelaskan bahwa paninggaran adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Notogiwang menjadi salah satu desa paling pelosok, terisolir dan tertinggal diantara desa yang lainnya. Di Kecamatan Paninggaran ada 15 desa yaitu Bedagung, Botosari, Domiyang, Kaliboja, Kaliombo, Krandegan, Lambanggelun, Lomeneng, Notogiwang, Paninggaran, Sawangan, Tanggeran, Tenogo, Werdi, dan Winduaji. Dari sekian banyak desa yang ada di Kecamatan Paninggaran ada salah satu desa yang belum mempunyai jamban. Ini menjadi faktor masalah didesa. Selain masalah tersebut kecamatan Paninggaran mempunyai potensi wisata yang dapat dinikmati oleh khalayak umum diantaranya ada Kalipaingan, Curug Siwatang, Curug Silangsih Sawangan, Pendakian Puncak Anjir, Candi Trenggolek Botosari, Kebun Teh Kaliboja, wisata geologi Watu Sigeong dusun Bandingan dan wisata ziarah makan mbah Wali Tanduran.

Untuk materi selanjutnya yaitu mengenai uraian target kegiatan KKN Angkatan 46 tahun 2019 IAIN Pekalongan, narasumber kali ini diisi oleh Aenurofik, M.A selaku dosen di IAIN Pekalongan. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan KKN 46 diantaranya audiensi, inisiasi kegiatan kemasyarakatan, menyampaikan maksud dan tujuan KKN, melakukan assesment desa (ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi) , menganalisa masalah dan tujuan , identifikasi program, mengorganisasi komunitas, penguatan kapasitas, pendampingan program, mengevaluasi proses pelaksanaan, deseminasi program dan audiensi. Beliau juga menegaskan pemberdayaan berbasis masjid bukan hanya pada permasalahan masjid saja tapi juga permasalahan yang ada didesa yaitu dilihat dari berbagai aspek diantaranya sosial, ekonomi, keagamaan dan penguatan SDM. Disitu juga beliau memberikan contoh FGD yang baik melalui simulasi yang dimana mengajak mahasiswa untuk melakukan FGD terkait dengan tema KKN. Beliau juga menjelaskan teknik menganalisis masalah yaitu dengan karya tulis ilmiah (memperkaya informasi), pemberdayaan berbasis masjid ( dominan dimensi ibadah, masjid bisa berperan sebagai pendidikan, kesehatan, dan kemasyarakatan, fokus pemberdayaan di sekitar masyarakat, dan mengaktifkan kembali fungsi masjid sebagaimana mestinya.

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…