Kaji Pola Pengapsahan Kiai Pesantren, Dosen IAIN Pekalongan Raih Doktor

07 May 2019

Pekalongan - Selama ini model pengapsahan kitab pesantren masih dipahami sebatas pola penerjemahan leksikal, padahal lebih dari itu, pola pengapsahan merupakan model penerjemahan yang sangan analitis-komprehendif. Pola pengapsahan juga cukup variatif dan masing-masing pola tersebut memiliki tujuan dan segmentasi keilmuan tersendiri pada kitab yang diterjemahkan.

Di sisi yang lain, secara politis, ragam Jawa Kitabi sebagai bahasa pengapsahan juga masih dianggap sebagai bahasa masyarakat pinggiran dan diposisikan sebagai ragam bahasa kelas rendah. Meskipun, secara teoritis ragam Jawa Kitabi memiliki struktur yang sistematis dan sudah menjadi lingua franca kaum pesantren yang sampai saat ini terus dipertahankan. Selain itu, pengapsahan kitab-kitab keagamaan kiai pesantren, sebenarnya tidak semata sebagai gerakan akademik kaum santri, tapi juga merukapan gerakan sosial, politik, budaya dan keagamaan.

Hal tersebut disampaikan Muhamad Jaeni, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan ini saat mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Pola-pola Pengapsahan Kitab Pesantren Kiai Pesisir Utara Jawa Abad XIX-XX (Kajian Historis-Sosiolinguistik)” untuk memperoleh gelar Doktor Studi Islam Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang Promosi Doktor kampus setempat, Selasa, 30 April 2019. Disertasi ini dipertahankan di hadapan Tim Penguji antara lain: Prof. Dr. H. Mudjahirin Thohir, MA., Prof. Dr. H. Mujiyono, MA., Prof. Dr. H. Syamsul Ma’arif, M.Ag., Dr. H. Ahmad Musyafiq, M.Ag., Prof. Dr. H. Muslich, MA., (promotor merangkap penguji) dan Dr. H. Suja’i, M.Ag. (co-promotor merangkap penguji). Sidang Promosi dipimpin oleh Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., dengan sekretaris Dr. H. Ismail, M.Ag.

Lebih lanjut Muhamad Jaeni memamparkan bahwa terdapat beberapa pola penulisan dan pengapsahan kitab-kitab keagamaan yang ditulis kiai pesisir utara Jawa Tengah, yakni; Pola Deskriptif-Interpretatif, Pola Gandul-Simbol Gramatik, Pola Gandul-Tanda Gramatik, Pola Gandul-Tanda dan Simbol Gramatik, dan Pola Pengapsahan Numerik. Secara umum, pola pertama dari lima pola di atas, banyak digunakan kiai pesisir abad ke XIX M. Pola deskriptif-interpretatif, di samping penulisannya lebih simpel,  juga isi kandungan kitab lebih mudah dipahami. Secara subtantif, pola semacam ini digunakan untuk menerjemahkan kitab-kitab yang berisi ajaran dasar agama seperti tauhid, fiqh, dan akhlak taswuf. Sementara empat pola berikutnya banyak digunakan ulama pesisir utara Jawa Tengah abad ke-XX M. Keempat pola pengapsahan tersebut digunakan menerjemahkan kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu gramatika Arab, ilmu-ilmu Alquran, Hadis dan beberapa kitab yang membahas ilmu fikih. Ragam bahasa yang yang digunakan dalam pengapsahan kitab keagamaan adalah Jawa-Kitabi. Ragam ini dianggap korpus ragam Jawa baru, dimana strukturnya meliputi aksara pegon, dialek ngoko pesisiran dan tata bahasanya mengacu pada tata bahasa Arab standar. Ragam Jawa kitab ini terus dijaga, dipertahankan dan dilestarikan masyarakat pesantren. Hal ini disebabkan di samping adanya diglosia (sebagai fenomena linguistik) dalam pengapsahan, juga karena  adanya sikap kebanggaan dan kesetiaan para kiai dalam menggunakan ragam Jawa kitab tersebut. Lebih jauh, promovendus menjelaskan bahwa secara historis terjadinya gerakan pengapsahan kitab kiai pesisir utara Jawa Tengah abad XIX-XX M ini, disebabkan  lima peristiwa historis, yaitu; adanya Bilād al-Jāwi sebagai tempat komunitas para ulama Nusantara di kota Mekah, fenomena kuatnya jejaring keilmuan kiai pesisir dalam upaya penulisan dan penerjemahan kitab-kitab pesantren,  munculnya gerakan islamisasi dan pemahaman agama masyarakat awam, adanya upaya pelestarisan tradisi ulama Jawa pesantren, juga adanya gerakan perlawanan para kiai pesisir terhadap segala bentuk diskriminasi kolonialisme Belanda.

Promosi ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan, Dr. H. M. Sugeng Sholehuddin, M.Ag, para wakil dekan, unsur pimpinan dan dosen. Oleh tim penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan  merupakan doktor ke-106 yang telah  diluluskan UIN Walisongo Semarang.

 

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…