“Li-ta’ārafụ” Pesan Moral Bagi Generasi Milenial

31 August 2019

KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menyampaikan taushiyah kebangsaan pada hari Senin (26/08/19) dalam rangka Stadium General menyambut perkuliahan semester gasal tahun akademik (TA) 2019/2020 di IAIN Pekalongan dengan tema “Meneguhkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai Pusat Moderasi Islam di Era Revolusi Industri 4.0”.

Mengawali taushiyahnya Gus Muwafiq menyampaikan bahwa Era Revolusi Industri 4.0 merupakan era yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, namun semua itu merupakan sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi terlebih oleh para generasi milenial saat ini sebagai era peradaban baru yang penuh keterbukaan dalam kehidupan manusia di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Lebih lanjut beliau menyampaikan, bahwa peradaban pertama manusia diawali dari pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Setelah sekian lama berpisah, Nabi Adam dan Siti Hawa hidup bersama sehingga dikaruniai putra dan putri yang kelak melahirkan generasi umat manusia di dunia dengan berbagai macam suku dan bangsa yang berbeda-beda. Dalam ibadah haji, momentum pertemuan ini diabadikan dengan ritual ibadah wukuf di Arafah sebagai pengingat bahwa tempat bersejarah inilah nenek moyang kita mengawali sejarah kehidupannya sehingga beranak-pinak menurunkan keturunan umat manusia. Oleh karenanya secara kemanusian kita sebagai manusia dengan berbagai suku dan bangsa yang berbeda adalah tetap bersaudara karena berasal dari satu keturunan yang sama yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa.

Gus Muwafiq menegaskan bahwa pesan al-Qur’an di balik penciptaan manusia yang beragam, dengan bangsa dan suku yang berbeda-beda tidak lain agar memiliki sikapsalingmengerti “lita’āraf”, demikian pesan al-Qur’an dalam surah al-Hujurat ayat 13, sehingga bukan hanya saling mengenal satu dengan yang lainnya akan tetapi saling memahami dan mengerti terhadap mereka yang berbeda dengan kita. Karena jika manusia mampu memiliki sikap saling pengertian maka manusia akan mampu menjalani kehidupannya dengan harmonis  dan tidak mudah terpancing emosi di saat melihat mereka yang berbeda dengannya. Inilah prinsip dasar yang membangun konsep besar yang disebut dengan ukhuwwah basyariyah. Oleh karenanya Mekah termasuk di dalamnya Kakbah adalah sebagai simbol dari monumen peradaban manusia yang saling bersaudara.

Setelah sekian lama peradaban Nabi Adam hilang terang Gus Muwafiq, maka kemudian Allah Swt mengirimkan seorang Rasul bernama Ibrahim dengan salah satu misinya membangun peradaban baru di atas peradaban lama yang telah lama hilang. Peradaban baru di masa Nabi Ibrahim ini tersimbolkan dengan dibangunnya kembali Kakbah sebagai peradaban lama di masa Nabi Adam yang pada saat ditemukannya hanya tersisa puing-puingnya saja. Pada saat awal membangun Kakbah dan kota Mekah saat itu Nabi Ibrahim berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar'in 'inda baitikal-muarrami rabbanā liyuqīmu-alāta faj'al af`idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuq-hum mina-amarāti la'allahum yasykurn 

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. 

Doa tersebut menjadi washilah bahwa keturunan Nabi Ibrahim mampu membangun sebuah peradaban besar yang tercatat dalam sejarah dunia hingga saat ini. Dalam perjalanan sejarahnya, Nabi Ibrahim dikaruniai dua orang putera yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ismail. Nabi Ishak melahirkan Nabi Ya’kub (Israil) dan memiliki dua belas putera yang kemudian dikenal dengan Bani Israil. Salah satu keturunandari dua belas puteranya tadi adalah Musa yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul dengan membawa kitab bernama Taurat. Dari sanalah lahir sebuh peradaban besar bernama Yahudi, sebuah bangsa besar dengan segala kecerdasan dan kemapanannya, bahkan sampai dengan saat ini sistem finansial dunia  masih dikuasai oleh mereka.

Kemudian Gus Muwafiq melanjutkan kisah sejarahnya dengan menyampaikan bahwa keturunan Nabi Ismail pun tidak kalah hebatnya bahkan Nabi dan Rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah adalah keturunan dari Nabi Ismail putera dari Nabi Ibrahim. Pembangunan kembali Kakbah oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim merupakan simbol peradaban baru di kota Makkah sekaligus sebagai bentuk napak tilas yang bisa mengingatkan umat manusia tentang adanya persamaan sejarah nenek moyang. Maka jika saat ini kita menemukan sebuah perbedaan, kita harus ingat bahwa sebenarnya dahulu kala kita adalah bangsa yang satu dari keturunan nenek moyang yang sama. Oleh karenanya “saling pengertian” adalah sebuah sikap yang memiliki nilai yang tinggi sebagai modal dalam menghadapi perbedaan dan keragaman di Era Milenal yang penuh dengan keterbukaan.

Selain memiliki sikap pengertian yang tinggi terhadap mereka yang berbeda dengan kita, maka modal kita sebagai bangsa yang kuat di era milenial ini adalah memiliki rasa kebanggaan yang besar terhadap bangsa dan negaranya. Lebih lanjut Gus Muwafiq mengatakan bahwa anak milenial saat ini adalah anak antar bangsa dan negara, mereka bisa berselancar ke seluruh penjuru dunia lewat dunia maya, namun semua itu tidak boleh melupakan jati diri kita sebagai bangsa untuk tetap mempertahankan karakter ketimuran kita dan mempertahankan negara kesatuan yang telah dibangung oleh funding father kita sebagai negara kebangsaan. Beliau mencontohkan K.H. Hasyim Asy’ari sebagai salah satu ulama besar nusantara saat itu, ketika diberikan sebuah pilihan tentang konsep sila pertama dari Pancasila antara diksi “Ketuhanan yang Maha Esa” dengan diksi “Ketuhanan dengan Menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya”, justru dengan kearifan dan keluhuran budinya, beliau memilih pilihan diksi yang pertama sebagai sebuah pilihan yang mampu merangkul keragaman seluruh komponen bangsa dari Sabang sampai Merauke, bukan karena tidak paham tentang syariat melainkan demi cita-cita yang besar yaitu menyelamatkan keutuhan bangsa dan negara.

Di akhir taushiyah, Gus Muwafiq berpesan kepada para mahasiswa baru IAIN Pekalongan untuk senantiasa lebih hati-hati dengan beberapa konsep dan gerakan Islam Transnasional yang masuk ke Indonesia seperti halnya Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan pembebasan yang banyak ditolak kehadirannya baik di negara asalnya maupun di beberapa negara yang pernah dikunjunginya. Konsep yang diusungnya tentang khilafah tentu akan merongrong kesatuan bangsa ini dan tentunya akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), oleh karenanya beliau dengan tegas mengatakan bahwa NKRI tetap harga mati._(Humas Bagian Umum)

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…