Tadris Bahasa Inggris Gelar Seminar Nasional Penerjemahan

10 November 2019

Himpunan Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris (HMJ TBIG) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pekalongan menggelar seminar nasional bertajuk “Penerjemah: Profesi Memikat Pendulang Dolar” bertempat di Auditorium IAIN Pekalongan, baru-baru ini (9/11). Acara tersebut menghadirkan narasumber Anna Wiksmadhara, praktisi penerjemah profesional, sekaligus Sekretaris Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI).

Menurut ketua HMJ TBIG, Yusril Ahsyar Mahendra, tujuan utama diadakannya seminar penerjemah ini adalah untuk  membuka wawasan kepada para mahasiswa mengenai profesi penerjemah. “Selain untuk memberi wawasan kepada mahasiswa mengenai luasnya dunia kebahasaan, juga untuk memotivasi mahasiswa bahwasanya meski mereka dipersiapkan menjadi seorang pengajar, tapi kita juga dapat memilih untuk berkarir di luar itu, sebagai contohnya profesi penerjemah ini,” tutur Yusril.

Menurut narasumber, profesi penerjemah selama ini masih dipandang sebelah mata, baik dari segi status maupun pendapatan. “Hal inilah yang harus diketahui para mahasiswa, bahwa menjadi penerjemah bisa menjadi pilihan karir yang menjanjikan. Kita memiliki asosiasi penerjemah baik di tingkat nasional maupun internasional. Jika kita betul-betul menekuni bidang ini, pendapatannya pun cukup menjanjikan. Saya sudah membuktikan dan menjalaninya selama puluhan tahun,” terang Anna.

Narasumber memberikan informasi mencakup jenis-jenis profesi penerjemahan, kisaran pendapatan, hingga strategi dalam menerjemahkan. “Jika teman-teman sudah memantapkan karir di bidang penerjemah seperti saya, tidak ada cara lain selain harus bekerja keras, khususnya dalam memperbanyak kosa kata. Saya sejak duduk di bangku SMP sudah menghafalkan kata-kata di kamus karya Hasan Sadili. Hasilnya, saat ini saya hampir tidak perlu menggunakan kamus ketika menterjemahkan,” tambah Anna.

Selain memperkaya kosakata, hal lain yang perlu digaris bawahi dalam menerjemahkan adalah keterampilan kita dalam memahami budaya teks sumber dan teks target. “Menerjemahkan itu sejatinya adalah mencari padanan informasi, dan tidak selalu terjemah kata per kata. Jadi, ketika kita menerjemahkan, pastikan kita menguasai dan mempelajari istilah-istilah yang dipakai di teks target yang maknanya sama dengan teks sumber. Misalnya, di Indonesia, ada istilah IGD, yaitu Instalasi Gawat Darurat, yang ternyata ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Emergency Room, bukan Emergency Installation,” jelas Anna._(TBIG)

 

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…