Tingkatkan Personal Quality Dosen, IAIN Pekalongan Gelar Pelatihan Revolusi Mengajar

14 November 2019

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Revolusi Mengajar: Menjadi Dosen yang Menginspirasi dan diikuti oleh dosen-dosen dari Fakultas Syariah (Fasya), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta Pascasarjana. Kegiatan ini diadakan di Ruang Meeting Lantai III Gedung FEBI yang berlokasi di Kampus II IAIN Pekalongan, Rowolaku, Kajen pada Sabtu (9/11/19) dimulai dari pukul 08:30 sampai dengan 16:30 WIB.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan gambaran teori dan praktik bagaimana menjadi dosen yang menginspirasi, khususnya bagi mahasiswa saat ini yang termasuk generasi era milenial. Oleh karena itu, IAIN Pekalongan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, Guru Besar IT pertama di Indonesia dan Komisaris Independen PT. Telkom Indonesia, dan Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan IAIN Pekalongan, sebagai narasumber dan moderator kegiatan ini.

Rektor IAIN Pekalongan, Dr. H. Ade Dedi Rohayana, M.Ag., membuka secara resmi penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Revolusi Mengajar ini. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Marsudi yang telah meluangkan waktu untuk hadir di IAIN Pekalongan. Selanjutnya, beliau juga mengimbau para dosen untuk memanfaatkan kesempatan atas pelatihan ini sekaligus menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapatkan dalam rangka memajukan IAIN Pekalongan menjadi PTKIN terkemuka dan kompetitif yang sejalan dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.

Kegiatan dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama menekankan bagaimana personal quality seorang pengajar dan pendidik, terutama dosen. Mengawali pada sesi ini, Prof. Dr. Ir. Marsudi memaparkan bahwa dosen perlu melakukan perubahan dalam menyajikan proses pembelajaran. “Dosen zaman dahulu hanya cocok untuk mahasiswa zaman dahulu, sedangkan mahasiswa zaman sekarang perlu dididik oleh dosen zaman sekarang,” terangnya. “Berkaitan dengan bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, permasalahan pendidikan bukan terletak pada kurikulum, tetapi pada personal quality para tenaga pengajar,” imbuhnya.

Lebih rinci, Guru Besar IT pertama di Indonesia ini menjelaskan bahwa terdapat tujuh kualitas pribadi yang seharusnya dimiliki oleh seorang dosen, antara lain: memiliki etos kerja spriritual, toleransi terhadap ketidaksempurnaan, memahami perbedaan individu, keterampilan komunikasi pembelajaran, sense of humor, melepaskan ego pribadi ketika masuk kelas, dan menyebarkan energi positif untuk memacu semangat para mahasiswa. “Dengan menunjukkan ketujuh personal quality ini, pembelajaran di dalam kelas akan terasa efektif, aktif, kreatif, dan menyenangkan,” tegasnya.

Selain itu, Prof. Dr. Ir. Marsudi juga mendefinisikan ‘sukses’ dan ‘bahagia’. “Sukses adalah to get what you love. Bahagia berarti to love what you get,” jelasnya. Menurut perspektif Komisaris Independen PT. Telkom Indonesia ini, bahagia ditandai dengan fisik yang bugar, otak yang cerdas, hati yang tangguh, dan ruh yang bahagia. “Untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, diperlukan empat etos kerja (4I) yang meliputi ikhtiar (physical quotient), istiqomah (emotional quotient), istikharah (intelligence quotient), dan istighfar (spiritual quotient),” lanjutnya.

Meneruskan sesi sebelumnya, Prof. Dr. Ir. Marsudi membagi peserta ke dalam lima grup pada sesi kedua untuk berkolaborasi membuat sebuah masterpiece dengan memanfaatkan alat bantu/properti di dalam ruangan pelatihan. Para peserta diminta untuk bebas mengekspresikan ide di atas media yang telah disediakan, tetapi mereka tidak diizinkan untuk berkomunikasi baik dengan suara, gerakan tangan, dan chat di media sosial.

Berikutnya, tiap kelompok diundang untuk mempresentasikan mahakarya mereka untuk dinilai. Tidak lupa, masing-masing grup juga diharuskan untuk mempersiapkan sebuah yell guna mendemonstrasikan kreativitas dan kekompakan tiap peserta pelatihan. Alhasil, praktik bekerja di dalam kelompok ini merefleksikan bahwa tiap anggota dapat saling mengenal (li-ta’arafuu), bekerja sama, serta melatih otak kanan dan kiri menjadi lebih kreatif.

Antusiasme para peserta pelatihan ini semakin bertambah pada sesi ketiga. Trainer, motivator, dan penulis buku, Aryo Seno Wicaksono, S.Kom., M.M., tampil untuk memberikan pelatihan public speaking kepada para peserta. Aryo, sapaan akrabnya, menyebutkan teori komunikasi terdiri dari tiga V, yaitu: verbal, voice, dan visual. “Variasi suara setengah, tiga per empat, dan penuh dapat disajikan di dalam kelas ketika proses pembelajaran berlangsung,” paparnya. Para peserta juga dilatih bagaimana cara menggunakan napas perut guna menghasilkan suara bulat saat mengajar dan mempraktikkan senam mulut untuk memproduksi artikulasi kata dengan jelas dan tepat. “Kualitas pribadi seseorang dapat diperhatikan dari cara berbicara,” ucap Aryo ketika menerangkan pentingnya cara berkomunikasi dengan baik.

Kegiatan Pelatihan Revolusi Mengajar ini ditutup oleh Dr. H. Muhlisin, M.Ag pada sore hari. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa rangkaian pelatihan ini terdiri dari tiga jilid. Syarat peserta pada pelatihan berikutnya ialah peserta yang dinyatakan hadir dan lolos mengikuti kegiatan training jilid pertama tersebut. “Acara hari ini merupakan kesempatan emas, dan peserta terpilih yang mengikuti kegiatan pada hari ini sangatlah beruntung,” tuturnya. Pelatihan serupa ini biasanya berbayar mahal. “Jadilah dosen yang menginspirasi dan berkharisma agar disegani dan dinantikan kehadirannya oleh setiap mahasiswa,” pungkas Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan IAIN Pekalongan sebelum menutup kegiatan._(Humas Bagian Umum)

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…