Seminar Nasional Moderasi Beragama Tutup Rangkaian Sabbatical Leave di IAIN Pekalongan

02 December 2019

Dalam rangka memperkokoh Islam Rahmatan lil Alamin, IAIN Pekalongan menggelar seminar nasional dengan tema “Memperkokoh Moderasi Beragama Menyongsong Kepemimpinan Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0”. Di akhir seminar ini diadakan juga clossing ceremony kegiatan Sabbatical Leave Kementerian Agama yang telah berjalan di IAIN Pekalongan selama dua minggu.

Kegiatan seminar ini sebagai kegiatan terakhir  Sabbatical Leave sekaligus penanda berakhirnya semua rangkaian kegiatan Sabbatical Leave yang berjumlah sebelas kegiatan mulai dari kegiatan open ceremony tanggal 21 Oktober 2019 hingga kegiatan Seminar Nasional ini.

Seminar Nasional yang dilaksanakan di auditorium IAIN Pekalongan pada hari kamis, 28 November 2019, dibuka langsung oleh rektor IAIN Pekalongan Dr. H. Ade Dedi Rohayana, M.Ag. Seminar ini khusus diperuntukkan bagi para mahasiswa IAIN Pekalongan sebagai pembekalan dan penanaman nilai-nilai moderasi Islam rahmatan lil Alamin.

Dalam sambutannya rektor IAIN Pekalongan mengatakan bahwa hendaknya para mahasisiwa IAIN Pekalongan mengedepankan Islam yang lebih inklusif dan penuh toleransi.  Sehingga nantinya mahasiswa IAIN Pekalongan tidak mudah untuk mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan dapat menerima perbedaan pandangan diantara sesama.

Pemaparan materi oleh Narasumber

Seminar yang merupakan Clossing Ceremony Sabbatical Leave ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag seorang guru besar UIN Walisongo Semarang dan diikuti oleh lebih dari 900 mahasiswa IAIN Pekalongan dari empat fakultas yang ada.

Dalam pemaparannya Prof. Syamsul menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara multikultural (majemuk) yang terdiri dari berbagai etnis, bahasa, adat istiadat hingga agama. Kemajemukan tersebut pada satu sisi merupakan kekuatan sosial dan keragaman yang indah apabila antara satu dengan yang lainnya saling bersinergi dan saling berkerjasama untuk membangun bangsa. Namun kemajemukan jika tidak dikelola dan dibina dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu sekaligus penyulut konflik kekerasan.

Foto bersama Narasumber dengan peserta seminar

Menurut Prof. Syamsul, Islam yang ditampilkan di Indonesia hendaknya lebih bersifat inklusif, toleran, dan terbuka dalam proses demokratisasi yang sedang dibangun oleh negara ini. Hal ini dapat dilihat dari sejarah perjuangan Indonesia yang mana para pendahulu umat Islam Indonesia rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan dan eksisnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)._(Humas Bagian Umum)

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…