IAIN Pekalongan Pamerkan 208 Hak Kekayaan Intelektual di Ajang BCRR 2019

04 December 2019

IAIN Pekalongan ikut Expo dan meramaikan kegiatan perdana Biannual Conference on Research Result (BCRR) 2019 pada 3-5 Desember 2019 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementrian Agama (Kemenag) ini bertujuan memberikan award riset terbaik di lingkungan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Ade Dedi Rohayana, selaku Rektor berharap IAIN Pekalongan bisa berbuat banyak dan membuktikan bahwa lembaga kita besar dan eksis. Bisa kontribusi bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman. “Kita harus bangga dengan kerja-kerja akademik kita, kita layak sejajar dengan kampus-kampus ternama,” demikian pesanya.

 

Dalam ajang BCRR tahun 2019, melalui seleksi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), IAIN Pekalongan mengutus peneliti terpilih untuk mempresentasikan hasil riset inovatif, saudara Shinta Dewi Rismawati, Abdul Khobir dan Muhammad Jaeni.  Ketua LP2M, Maghfur menjelaskan bahwa Biannual Conference merupakan salah satu acara pertanggungjawaban akademik, untuk mengukur kinerja dan hasil riset yang selama ini berjalan. Ekspo kali ini juga disemarakkan dengan Jurnal di lingkungan IAIN Pekalongan. Jurnal Religia (Sinta 2), Muwazah (S3), Jurnal Hukum Islam (S3), Edukasi Islamika (S2), Hikmatuna (S2), Alsinatuna (S3), Ijibec (S3), Jurnal Penelitian (S3) dan Islamic Journal for Social Transformation (Isjoust). “Kita ekspo hasil dan produk riset, ada buku, jurnal, ada media, kerajinan, dan juga sertifikat hak kekayaan intelektual yang dihasilkan sivitas akademika. Kita bawa 208 sertifikat HKI,” tandas Maghfur.

Acara BCRR diawali sambutan tuan rumah, Rektor UIN SGD Bandung. Mahmud mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah di ajang BCRR yang pertama. Mahmud berharap agar acara BCRR ini tidak seperti Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (PIONIR), dimana tuan rumah pasti yang paling banyak memboyong penghargaan.

Pembukaan acara dilakukan Direktur Diktis Ditjen Pendis, Arskal Salim. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa cukup banyak kegiatan yang diadakan dalam rangka mengapresiasi hasil-hasil karya penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika PTKI. Menurutnya, ini penting dilakukan karena penelitian merupakan substansi dari perguruan tinggi. “Karena research merupakan substansi dari perguruan tinggi. Makanya saya bilang, dosen itu adalah guru yang meneliti. Maksudnya apa, kalau dia tidak meneliti dia ibaratnya sama, setara dengan guru Sma atau guru smp. Karena itu kita harapkan dengan kegiatan seperti ini dapat menginovasi, mendorong perguruan tinggi untuk terus meningkatkan researchnya,” ungkapnya saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara.

Arskal juga memberi pencerahan kepada peserta. Ada beberapa kompetensi yang perlu dimiliki seorang peneliti. Pertama, kemampuan dalam membaca, mengakses, menganalisa atas bacaan-bacaan. Kedua, kemampuan dalam menuangkan gagasan, ide, dan pikiran ke dalam tulisan yang enak dibaca, tulisan yang mudah dicerna. Ketiga, daya kritisisme, yaitu nalar rasional yang mampu mencerna hubungan sebab-akibat, membaca indikator kategori melalui metodologi yang diakui. “Dan yang terakhir adalah kemampuan dalam berdialog, mengkomunikasikan pikirannya, gagasannya, pendapatnya, mempertahankannya di presentasi-presentasi, konferensi, ataupun seminar dan lainnya. Keempat kompetensi inilah yang harusnya menjadi landasan bagi peneliti dalam mengembangkan keilmuannya di Indonesia maupun dunia internasional,” tandas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah.

Di malam penganugrahan BCRR 2019 dipilih riset terbaik, yaitu kategori keilmuan yaitu Studi Islam/Tafaqquh Fiddin, Bidang Sosial/Humaniora, Integrasi Keilmuan, Moderasi Beragama, dan Bidang Sains dan Teknologi._(LP2M)

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…