Kerjasama Dengan KPK, IAIN Pekalongan Gelar Sosialisasi Pendidikan Anti Korupsi

13 December 2020

Pekalongan (13/12) - IAIN Pekalongan bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar kegiatan bertema “Sosialisasi Desain Pendidikan Anti Korupsi di Perguruan Tinggi” pada hari Jumat, 11 Desember 2020. Kegiatan ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara dibuka langsung oleh Rektor IAIN Pekalongan yang sekaligus sebagai Keynote Speaker pada pukul 14:00 WIB. Sosialisasi ini diselenggarakan secara blended (online dan offline) dengan menghadirkan pembicara dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu Ibu Siti Patimah.

Dalam sambutannya, Rektor IAIN Pekalongan, Dr. H. Ade Dedi Rohayana, M.Ag. menyampaikan bahwa korupsi merupakan jenis kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), dan oleh karenanya memerlukan upaya luar biasa pula untuk memberantasnya. Menurut Dr. Ade, upaya pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan Pemerintah saja. Keterlibatan seluruh komponen masyarakat, termasuk perguruan tinggi menjadi kunci suksesnya upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun demikian, Dr. Ade menyadari bahwa pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi termasuk tema yang relatif baru. “Kami berharap akan memperoleh masukan dan saran terkait implementasi pendidikan anti korupsi di dalam kurikulum perguruan tinggi, khususnya di IAIN Pekalongan,” tambahnya.

Sementara itu, Siti Patimah selaku pemateri dari KPK menjelaskan poin-poin penting terkait pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi, mulai dari pengertian pendidikan anti korupsi (PAK), strategi dan tantangan pemberantasan korupsi, wujud kolaborasi antara KPK dan perguruan tinggi, implementasi pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi dan sebagainya. Menurut pemateri, setidaknya ada 4 (empat) cara mengimplementasikan pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi, yaitu melalui (1) tema korupsi menjadi mata kuliah independen; (2) penyisipan ke mata kuliah yang relevan; (3) kegiatan ekstra kurikuler seperti workshop, KKN tematik, social campaign dan movement; dan (4) pendirian pusat kajian anti korupsi. Pemateri juga mengungkapkan temuan bahwa 86% pelaku korupsi di Indonesia adalah lulusan perguruan tinggi, dan oleh karena itu, pendidikan anti korupsi sangat penting diberikan bagi sivitas akademika di perguruan tinggi.

Turut bergabung dalam kegiatan ini adalah Dr. H. Muhlisin, M.Ag. yang bertindak sebagai host dan juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, para pimpinan di tingkat fakultas, lembaga, UPT, dan para dosen. Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat sangat antusias dalam menyampaikan pertanyaan, saran, dan pandangan, dan semuanya telah mendapatkan tanggapan dari pemateri. Secara umum, kegiatan ini berjalan lancar dan tetap mematuhi protokol kesehatan di masa Pandemi Covid-19._(Humas_Bagian Umum)

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…