PSGA IAIN Pekalongan Gelar Workshop Pencegahan & Penanggulangan Kekerasan Seksual

05 February 2021

Setting masyarakat kita masih cenderung memaklumkan keadaan sehingga kekerasan dan pelecehan seksual menjadi masif, bahkan hal biasa” (Nur Hasyim)

Petikan di atas menjadi prolog yang disampaikan narasumber dalam gelaran Workshop Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di lingkungan Kampus IAIN Pekalongan, Selasa-Rabu (2-3/2). Workshop yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Pekalongan ini, mendatangkan Nur Hasyim, M. A. dari Rifka Annisa dan Aliansi Laki-laki Baru serta Prof. Alimatul Qibtiyah sebagai perwakilan komisioner Komnas Perempuan.

Kegiatan ini dilakukan selama dua hari. Di hari pertama, Nur Hasyim menyampaikan materi ihwal kekerasan seksual dan model advokasi pencegahan beserta penanganan kekerasan seksual di kampus. Menurutnya, seiring dinamisnya waktu, kini muncul berbagai bentuk kekerasan baru, salah satunya kekerasan seksual berbasis daring atau cyber. Kemudian ia menambahkan, kekerasan seksual di masa pandemi ini trendnya masih sama, yang membedakan hanya pada lokus dan medianya saja. Namun sejauh ini, temuan secara konsisten menunjukkan bahwa perempuan, lebih sering memiliki kekhawatiran jika dilecehkan secara seksual di tempat umum ketimbang laki-laki. Penyebabnya adalah, laki-laki lebih memiliki sisi privilese, sementara perempuan tidak. “Saya kira persoalan kekerasan seksual ini bisa dilihat dari berbagai dimensi. Dimensi paling kentara adalah pada struktur sosial di masyarakat kita yang terlampau seksis. Dominansi patriarkhi dan relasi kuasa yang tidak adil menimbulkan berbagai bentuk kekerasan seksual,” ujar aktivis gender dan dewan pengawas Rifka Annisa ini.

Nur Hasyim menambahkan, konsekuensi dari struktur sosial seksis adalah keuntungan bagi gender tertentu, dalam kasus ini laki-laki. Sebaliknya, perempuan banyak yang merasakan diskriminasi, subordinasi,  marginalisasi, stereotipnegatif, dsb. “Data Rifka Annisa menunjukkan, kasus kekerasan seksual di kampus antara tahun 2016-2020 terdapat130 kasus. Jenis kekerasan seksual yang terjadi antara lain pelecehan disertai kekerasan. Korbannya dominan dari pihak mahasiswi. Kemudian, pelaku terdiri atas dosen, pejabat, dan staf akademik. Sementara itu, modus yang digunakan pelaku adalah membangun hubungan yang sangat nyaman dengan korban, lalu melanjutkan pada kegiatan yang mengarah ke tindakan kekerasan seksual,” tutup Hasyim mengakhiri presentasinya.

Sementara itu, pada agenda hari kedua, workshop didampingi oleh komisioner Komnas Perempuan Devisi Pendidikan, Prof. Alimatul Qibtiyah. Sebagai pakar yang telah malang melintang mendampingi korban kekerasan seksual, beliau menularkan ilmunya melalui materi peningkatan kapasitas pengelola ULT Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di IAIN Pekalongan. ULT merupakan Unit Layanan Terpadu IAIN Pekalongan sebagai wadah lembaga pengaduan dan layanan atas kasus kekerasan berbasis gender yang terjadi di kampus. Beliau memberi motivasi sekaligus berkelakar, “Kerja ULT ini adalah bentuk pengabdian, dan kerja pengabdian adalah kerja-kerja atas nama kemanusiaan. Maka, saya harap teman-teman tidak bermimpi mendapat mata air, namun justru hanya air mata nanti yang akan kita dapatkan. Tetap semangat!” ujar professor pakar gender ini.

Lebih lanjut, Prof. Alim menyampaikan bahwa perlu memiliki empat kapasitas jika kita bergabung sebagai pengelola ULT dalam penanganan terhadap persoalan kekerasan seksual, antara lain sensitivitas gender, memahami penangananan korban, memahami rehabilitasi pelaku, dan keberpihakan kepada korban. Selain menyampaikan kapasitas pengelola ULT, beliau juga memberi gambaran dalam mengadvokasi para korban kekerasan seksual. “Advokasi diawali dengan berbaik sangka. Selian itu, advokasi diniatkan untuk mencari keadilan. Bukan untuk memenjarakan, namun menjerakan pelaku agar tidak mengulangi tindakannya lagi,” pungkas Prof. Alimatul Qibtiyah.

Di sesi akhir, para audiens yang tergabung secara offline diajak untuk menyimulasikan kerja-kerja atau job desk yang terdapat pada ULT Pencegahan dan PenangananKekerasan Seksual. Audiens diberi contoh kasus, kemudian mengelaborasikannya dalam bentuk pendampingan terhadap korban serta rehabilitasi pelaku. Melalui upaya demikian, harapannya tim pengelola ULT memiliki bekal untuk member pelayanan kepada korban kekerasan seksual jika terdapat kasus di kemudian hari._(LP2M)

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…