Perkuat Kerjasama, IAIN Pekalongan Gelar Dialog Forum Pimpinan Kampus se-Pekalongan Raya

27 October 2021

Pekalongan (27/10) - Dalam rangka memperkuat kerjasama antar perguruan tinggi se-Pekalongan Raya (Kota dan Kabupaten Pekalongan, Batang, Pemalang, Kota dan Kabupaten Tegal dan Brebes), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan menghadirkan para pimpinan kampus se-eks Karesidenan Pekalongan. Acara ini dikemas dalam forum dialog bersama dengan anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Fauzan Nur Huda dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Miftahul Aziz, M.H.

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Meeting Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Kampus II Kajen pada Sabtu, 23 Oktober  2021. Bertajuk dialog Forum Pimpinan Perguruan Tinggi se-Pekalongan Raya, kegiatan ini mengangkat tema "Memperkokoh Kerjasama Perguruan Tinggi Dalam Bingkai Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar”.

Dalam sambutannya, Dr. H. Muhlisin, M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama sekaligus Ketua penyelenggara melaporkan bahwa kegiatan dialog ini diikuti oleh 34 pimpinan Perguruan Tinggi se-Pekalongan Raya. Adapun tujuan diselenggarakannya dialog ini untuk mempererat silaturahim dan memperkuat kerjasama kelembagaan antar Perguruan Tinggi se-Pekalongan Raya dalam rangka menindaklanjuti kebijakan nasional dalam mengimplementasikan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Disamping itu, dialog dengan tokoh nasional ini agar IAIN Pekalongan dan Perguruan Tinggi se-Pekalongan Raya memiliki nilai tawar dan daya jual sebagai destinasi pendidikan pada level nasional. Dialog Forum Pimpinan Perguruan Tinggi ini diharapkan menjadi momentum awal dan harapannya menjadi kegiatan rutin secara berkelanjutan untuk membahas isu-isu strategis nasional. Di akhir sambutan, Muhlisin mengingatkan bahwa kampus memiliki tanggung jawab bersama untuk mengantarkan lulusannya agar dapat bersaing dalam dunia kerja dan industri.

Sementara Rektor IAIN Pekalongan Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan beberapa pokok pikiran mengenai konsep pengelolaan perguruan tinggi di era Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar, yakni: Pertama, perubahan paradigma baru dari kompetisi ke kolaborasi. Perguruan tinggi perlu saling berkolaborasi dalam mencerdaskan mahasiswa sebagai konsekuensi terbukanya kesempatan mengambil mata kuliah di kampus lain; Kedua, prinsip tanggung jawab bersama. Dengan adanya kebijakan nasional di atas, maka mahasiswa tidak hanya menjadi tanggung jawab kampus asalnya, tetapi kampus tempat ia mengambil mata kuliah di luar kampus asalnya juga turut bertanggung jawab memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan; Ketiga, prinsip komplementer atau saling melengkapi antara satu kampus dengan kampus lainnya, terutama dalam penyelenggaraan perkuliahan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa; Keempat, prinsip resource sharing atau berbagi sumber daya, baik sumber daya manusia, teknologi maupun sumber daya lainya. 

Di akhir sambutannya, Zaenal Mustakim, Rektor yang dikenal humonis ini mengungkapkan bahwa lima konsep di atas sejatinya berorientasi pada peningkatan kompetensi lulusan. Karenanya, para pimpinan perguruan tinggi harus saling bekerjasama dan bergandengan tangan agar cita-cita dan tujuan utama dari kebijakan nasional mengenai Kampus merdeka dan Merdeka Belajar dapat terwujud di wilayah Pekalongan Raya. 

Pada kesempatan dialog ini, Muhammad Fauzan Nur Huda (anggota Komisi VII DPR RI) mengaku bahwa pihaknya menginisiasi kegiatan dialog ini karena dilatarbelakangi kenyataan bahwa beberapa kampus belum memiliki konsep magang yang jelas dan juga belum memiliki blue print kerjasama dengan dunia industri, sehingga seringkali kompetensi lulusan tidak “nyambung” dengan kebutuhan dunia industri. Pengalamannya sebagai Tenaga Ahli di Kementerian Tenaga Kerja selama 6 (enam) tahun, mendorongnya untuk menggandeng perguruan tinggi agar mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi untuk membekali lulusannya dengan kompetensi yang tersertifikasi sehingga lebih mudah diterima di dunia usaha dan industri. Oleh karenanya, Fauzan Nur Huda juga mengajak Wakil Ketua BNSP, Miftahul Aziz sebagai narasumber pada kegiatan ini. 

Senada dengan Fauzan Nur Huda, Wakil Ketua BNSP Miftahul Aziz, M.H dalam paparan materinya menjelaskan bahwa di era industri, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya berbekal ijazah, tetapi juga melengkapinya dengan sertifikasi profesi agar kompetensinya di dunia kerja dapat diakui dan bisa bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri. Selaku Wakil Ketua pada Badan Nasional Sertifikasi Profesi, ia mengaku siap untuk memfasilitasi perguruan tinggi di wilayah Pekalongan Raya untuk mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) pada bidang-bidang yang sesuai dengan kompetensi lulusan di kampus tersebut. 

Acara dialog Forum Pimpinan Perguruan Tinggi se-Pekalongan Raya juga diisi dengan penandatanganan kerjasama (MoU) antara IAIN Pekalongan dengan 8 (delapan) kampus, yakni Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, Universitas Peradaban Brebes, Institut Teknologi dan Sains (ITS) NU Pekalongan, IAI Bhakti Negara Tegal, STIE As-Soleh Pemalang, STAIKAP Pekalongan, STIES Putra Bangsa Tegal, STIT Pemalang dan STKIP NU Tegal.


Reporter   :  Irfandi

Editor       :  Saiful Anam

Redaktur  :  Humas Bagian Umum

 

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…