Prof. Syamsul Bakri: Moderasi Beragama Memiliki Akar Sejarah yang Kuat

01 January 2022

Pekalongan (1/1) – Guna menyiapkan lulusan PTKIN sebagai agen dan duta moderasi beragama di era revolusi industri 4.0, IAIN Pekalongan mengadakan bimbingan teknis (bimtek) moderasi beragama (hari kedua) dengan sasaran alumni mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pekalongan wisuda Desember 2021. Bertempat di Auditorium IAIN Pekalongan, acara terlaksana pada Selasa 28 Desember 2021.

Narasumber pada hari kedua bimtek moderasi beragama yakni Prof. Dr. H. Syamsul Bakri, M. Ag., pendiri Darul Afkar Institut Solo sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Surakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari berturut – turut. Pada kesempatan ini, tema yang disampaikan oleh Prof. Syamsul adalah mengenai “Moderasi Beragama dalam Lintasan Sejarah”.

Dalam paparan awalnya, Prof. Syamsul menyampaikan bahwa pada sejarah Islam di Indonesia, umat Islam Indonesia telah menunjukkan sifat yang moderat, tengah-tengah (Islam Wasathiyah) dan tidak ekstrim. “Moderat juga memiliki ciri: tidak mudah menyalahkan pendapat lain yang berbeda, menjaga toleransi, mereproduksi makna dari doktrin agama dalam kerangka kerahmatan, hal-hal ini sudah sedari lama ada pada umat Islam Indonesia,” papar Prof. Syamsul.

Lebih lanjut, Prof. Syamsul menjelaskan mengenai sejarah masuknya Islam di nusantara, yakni melalui proses dakwah yang dilakukan dengan model perdagangan, perkawinan, pribumisasi, dan kekuasaan politik. Kemudian diikuti dengan perkembangan kerajaan Islam yang merupakan bagian dari peran struktural yang kuat. “Peran ulama dalam perkembangan ajaran Islam sangat penting pada masa itu, misal Walisongo, Nuruddin Ar-Raniri, Syamsuddin Sumatrani, dan Abdul Rauf Sinkel,” ungkap Prof. Syamsul.

Kedatangan kolonial barat telah menggeser kekuaatan politik Islam pribumi. Untuk penguatan Islam dari ancaman budaya dan agama asing, tokoh – tokoh pesantren melakukan dakwah sebagai bentuk perlawanan dan pondasi. Karena itu, lanjut Prof. Syamsul, pesantren mempunyai peran yang sangat penting sebagai pusat sentimen anti-Belanda. Seiring perkembangan waktu mulai lahir organisasi-organisasi Islam sebagai bentuk pergerakan dakwah Islam di Indonesia.

Di ujung materi, Prof. Syamsul memaparkan  terkait sejarah berdirinya MUI di era orde baru. Ia menyebut MUI dibentuk dengan tujuan untuk mempersatukan kaum muslimin, dan sebagai kontribusi para ulama dalam peran pembangunan. “Dengan mengetahui sejarah tentang dakwah Islam di Indonesia akan sangat penting bagi mahasiswa dalam membangun moderasi beragama dan akan menjadi benteng yang kuat dari pengaruh radikalisme,” tutup Prof. Syamsul.


Reporter  : Baryachi

Editor      : Dimas Prasetya

Redaktur  : Humas Bagian Umum

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…