Print this page

AICIS 2019 Promosikan Dinamika Islam pada Era Digital

05 October 2019

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menyelenggarakan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta pada 1–4 Oktober 2019. AICIS merupakan forum kajian keislaman yang sudah diinisiasi oleh Kemenag RI sejak 19 tahun yang lalu. Sekitar 1.700 akademisi Islam dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia, berbagai perguruan tinggi umum, dan universitas luar negeri terlibat dalam rangkaian kegiatan AICIS 2019.

AICIS ke-19 mengusung tema “Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam”. Pembicara utama dalam gelaran AICIS ke-19 ini ialah Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI), Peter Mandeville (George Mason University, Virginia USA), Garry R. Bunt (University of Wales), Pam Nilan (University of Newcastle), Umar Riyad (KU Leuven, Belgia), dan Abdul Majid Hakemollahi (ICAS London).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, membuka secara resmi penyelenggaraan AICIS 2019 di Nusantara Hall, Hotel Mercure Batavia pada Selasa (1/10) malam. Dalam sambutannya, Menkominfo menyampaikan harapan agar segenap stakeholder pendidikan Islam dapat mengantisipasi paradigma perkembangan dalam era disrupsi ini. “Pengajaran dewasa ini tentu saja tidak berorientasi pada textbook semata, generasi muda saat ini harus didorong untuk kreatif dan kritis dalam bertanya, dan kita harus dapat mempersiapkan generasi yang siap menghadapi era digital,” jelas Rudiantara.

Menkominfo juga menambahkan bahwa pendidikan Islam dapat memainkan peran strategis sebagai tindakan preventif generasi muda dalam menangkal hoaks, fitnah, dan hate speech. “Jumlah lembaga pendidikan Islam yang besar sangat berpotensi untuk mengambil peran tersebut,” lanjutnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag RI, Kamaruddin Amin, menyebutkan bahwa AICIS 2019 bertujuan untuk mengarahkan para sarjana dan akademisi Islam agar dapat berkontribusi dalam mengambil solusi terhadap isu-isu keislaman di dunia. Dirjen Pendis juga menjabarkan kondisi pendidikan Islam di Indonesia saat ini. “Pendidikan Islam ialah suatu ekosistem besar. Hampir seribu PTKI, 72 ribu pendidikan dasar dan menengah, 30 ribu pondok pesantren, dan tujuh juta madrasah takmiliyah terdapat di Indonesia,” tuturnya.

Lembaga-lembaga pendidikan tersebut menelurkan 10 juta siswa, empat juta santri, satu juta guru, 32 ribu dosen, enam ribu doktor, dan 500 profesor. Sementara itu, stakeholder pendidikan Islam berjumlah 28 juta. “Jika sumber daya yang besar ini dikelola dengan baik dan diarahkan untuk kontribusi positif, hasilnya akan luar biasa,” tandas Kamaruddin.

AICIS 2019 juga dihadiri oleh lima pimpinan IAIN Pekalongan, yaitu: Rektor, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Direktur Pascasarjana, dan Kasubbag Administrasi Umum dan Keuangan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Selain itu, tiga dosen IAIN Pekalongan juga berkontribusi sebagai pemakalah dalam beberapa panel pada perhelatan AICIS tahun ini. Fachri Ali, Dosen FTIK, mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Education in the Digital Age: Promoting Moderate Islam in the Prevention of Radicalism and Violent Extremism” dalam Open Panel 7Inclusivity, Tolerance, and Digital Literacy”. Kuat Ismanto, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, memaparkan hasil investigasinya dengan judul “Proyeksi Wisata Halal di Pekalongan” dalam Extended PanelThe Emerging Trends in Halal Industry and Islamic Economy-Tourism, Estate, and Financial Management”. Terakhir, Zawawi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, menyajikan hasil studinya dengan mengangkat judul “والسعودية وتركيا إندونيسيا تجربة بين دراسة مقارنة المستدامة، تحقيق التنمية  في دور الوقف” pada panel Litapdimas.

Konferensi tahunan ini menyajikan 450 paper dari 1300 yang diseleksi oleh panitia penyelenggara. AICIS ke-19 ditutup oleh Direktur PTKI, Arskal Salim, pada Kamis (3/10) malam. Arskal menyampaikan bahwa AICIS merupakan ajang ilmiah para pemikir Islam pada level internasional dan menjadi wadah pertemuan para pemangku kepentingan studi Islam yang diharapkan dapat menjadi barometer perkembangan kajian Islam dunia. Beliau juga berterima kasih kepada seluruh keynote speaker, chair, pemakalah, peserta, dan panitia penyelenggara yang turut hadir pada upacara penutupan tersebut. “AICIS berikutnya akan diadakan di Bengkulu,” pungkas Arskal._(Humas Bagian Umum)

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…