Jamin Ideologi Lulusan, IAIN Pekalongan adakan Webinar Moderasi Beragama

25 May 2021

Pekalongan (25/5) - Salah satu komitmen IAIN Pekalongan dalam rangka turut serta menjaga keutuhan bangsa dan negara adalah adanya komitmen dari segenap pimpinan dan sivitas akademika untuk menerapkan “ideological security” atau keamanan ideologis untuk para lulusannya. Dengan komitmen tersebut IAIN berusaha menjamin lulusannya tidak terpapar ideologi yang bertentangan dengan pancasila dan UUD 45. Berbagai upaya dilakukan kampus untuk merealisasikan komitmen tersebut melalui berbagai kegiatan, baik yang berwujud kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kegiatan di luar kelas.

Berangkat dari komitmen tersebut, pada hari Senin, 24 Mei 2021, Sema dan Dema, di bawah koordinasi dari Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, Dr. Muhlisin, M. Ag mengadakan Halal bi Halal Virtual sekaligus Webinar dengan tema "Memperteguh Komitmen Moderasi Beragama dalam Rangka Turut Menciptakan Perdamaian Dunia". Acara yang diselengarakan melakui media Zoom Meeting tersebut menghadirkan pemateri Ketua PW GP Anshor Jawa Tengah, KH. Sholahuddin Aly. 

Tema tersebut diangkat, menurut Dr. Muhlisin, selain untuk meneguhkan semangat moderasi beragama, juga sebagai respon atas tragedi kemanusiaan berupa pengusiran dan pembunuhan sedang menimpa rakyat Palestina dari tentara Israel. 

Acara webinar yang diikuti oleh lebih dari 300-an mhasiwa dan dosen ini diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne IAIN Pekalongan, sambutan dari Rektor IAIN dan dilanjutkan dengan sesi materi. 

Rektor IAIN Pekalongan Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag dalam sambutannya menjelaskan bahwa moderasi beragama diejawantahkan pada tiga aspek : moderat dalam pikiran, moderat dalam tindakan dan moderat dalam sikap. Moderat dalam pikiran artinya memahami teks-teks agama secara proporsional dengan memadukan pendekatan tekstual dan kontekstual. Moderasi dalam tindakan meniscayakan tindakan yang seimbang antara idealisme agama dan realitas sosial, sedangkan moderasi dalam sikap berarti bersikap seimbang atau tawazun dalam menjalankan agama. 

Pada sesi materi, Gus Sholah mengawali presentasinya dengan menjelaskan akar munculnya moderasi. Menurut Pria asal Jepara tersebut, moderasi beragama tidak lahir dari ruang hampa. Ia mengada dan mewujud menjadi bahan diskursus akhir-akhir ini karena adanya sikap “denial” atau penyangkalan tiap kali terjadi aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. “Tiap kali ada aksi teror, pengeboman dan semacamnya, selalu muncul narasi-narasi penyangkalan bahwa agama Islam tidak mengajarkan kekerasan, bahwa terorisme bertentangan dengan Islam, bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamien. Menyangkal saja tidak cukup. Untuk membuktikan narasi seperti itu, maka perlu penjelasan yang memadai tentang ajaran Islam yang benar itu seperti apa. Dari sini lahirlah istilah moderasi beragama, yaitu beragama secara moderat, sesuai dengan karakter Islam itu sendiri”. 

Gus Sholah juga berharap agar kampus sebagai lembaga pendidikan tertinggi menjadi episentrum dan garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama, sehingga ke depan tidak ada lagi dikotomi antara agama dan negara, dan sebaliknya, keduanya dapat berjalan sinergis dan beriringan. 

Setelah sesi materi, kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini, Dr. Muhlisin mengungkapkan bahwa lulusan IAIN Pekalongan mestilah memiliki komitmen keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan secara seimbang dan harmonis. Sebagai bentuk apresiasi terhadap peserta webinar, ia juga menyediakan souvenir berupa dua buah buku terbitan IAIN bagi setiap penanya. 


Reporter : Irfandi

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…